Sunday, October 24, 2004

Pemerintah Baru: Harapan Baru ?



Kebanyakan orang berharap dengan pemerintah baru maka ekonomi dan aspek hidup lainnya akan segera menanjak. Yah, harapan yang dari dulu tidak berubah. Komposisi pemerintah baru cukup menjanjikan masa depan yang cerah. Gabungan politik, bisnis dan militer yang disimbolkan oleh presiden dan wapres baru sangat berimbang. Jadi prasyarat yang sangat baik. Seandainya ....

Yah, seandainya semudah itu.

Itulah kesalahan kebanyakan negara dunia ketiga. Setelah pemilu kembali pasif.

Kebanyakan orang beranggapan bahwa demokrasi berarti kemajuan ekonomi. Itulah asumsi orang yang bodoh dan kurang akal. Contoh yang radikal di dunia adalah perbandingan antara RRC dan Rusia. RRC kini menjadi super-power ekonomi dan Rusia hanya jadi sarang mafia dan pelacuran.

Memang kini Putin berusaha kembali ke otokrasi untuk coba banting setir. Dia pikir tindakan tersebut akan menyelamat Rusia dari kemerosotan yang makin tragis dari hari ke hari.

Mari kita analisa kedua contoh yang sangat extrem tsb. Rusia dulunya mempunyai teknologi puncak di berbagai bidang. RRC dulu tidak pernah punya teknologi puncak diberbagai bidang apapun. Malah punya punya problem besar: Jumlah penduduk yang kebanyakan. 1 Miliar. Wah ... wah.

Tapi itu dulu. Sekarang: RRC masih komunis tanpa demokrasi dan Rusia bersistim demokrasi barat.

Tapi fakta sekarang : RRC telah menjadi produsir tingkat dunia berbagai produk berteknologi tingi. Dari mulai laptop/notebook, hp, mobil, container dll. Ditakuti oleh seluruh negeri barat.

Sekarang: Rusia sarang mafia, dimana uang upeti untuk mafia menentukan hidup mati usaha di negeri yang kaya akan sumber daya alam. Pengusaha musti dikawal seperti presiden. Kalau tidak, bisa mati konyol dalam perjalanan ke kantor.

Apa sih rahasianya RRC?

Rahasianya adalah: Manusianya. Ya, 1 Milliar orang yang tangguh dalam hidup dan pantang menyerah. Mungkin bagi orang melayu kayak saya ini agak susah diterima. Kita orang melayu tahunya orang cina itu tukang sogok pejabat!

Kita mau tidak mau harus jujur terhadap diri kita sendiri. Tidak ada untungnya cuma melihat aspek negatif saja dari orang cina. Kita harus bisa belajar dari yang positif, meski sangat berat.

Kalau kita lihat seluruh dunia: Orang cina menguasai di teknologi tinggi. Dan mereka tidak cengeng kayak orang melayu yang punya moto hidup: makan tidak makan asal ngumpul. Moto hidup orang yang bakal gagal dalam hidup. Coba lihat berapa banyak orang cina yang jadi ahli riset di negeri barat. Orang melayu setelah sekolah di luar negeri pinginnya langsung pulang. Meskipun cuma jadi dosen dengan gaji seadanya. Itulah manusia yang cengeng. Looser. Asfala safilin. Aspalnya aspal. Hina dina. Itulah kelakuan orang melayu.

Banyak orang cina yang bikin disertasi di eropa dan jadi dosen di amerika atau kanada. Karena di eropa bisa promosi untuk bikin doktor dengan biaya murah, asal punya otak dan siap kerja keras. Dan di amerika bisa dapat kerja jadi dosen karena saking banyaknya universitas swasta di negeri paman sam atau kanada.

Tapi orang melayu yang ambil gelar doktor di negeri barat maunya cepat pulang supaya dapat jabatan di kampung dan yang penting bikin anak yang banyak tapi cengeng dan manja. Yah gimana bisa maju?

Saya tidak setuju dengan argumen dengan pulang ke kampung bisa bangun negara. Kenyataannya cuma ikut bloon kayak orang yang tidak pernah kuliah di luar negeri. Para Doktor melayu yang tamat dari luar negeri coba tanam kan di otak saudara, abahwa dengan selesai doktor itu ilmu anda baru tahap awal. Baru teori. Belum di jadi kan produk massal, dimana bisa negara bisa hemat devisa asing. Masak negeri 200 juta orang bikin mobil saja tidak bisa? Kalah dengan korea? Kok bisa? ya karena otak kalian itu hanya pikir jabatan dan bukannya profesionalisme.

Orang cina yang jadi dosen di amerika tentunya menerapkan KKN, artinya dia membimbing orang cina yang lain untuk dapat doktor dan dengan demikian menjadi multiplikator. Coba bayangkan seorang cina yang jadi dosen di amerika atau eropa setiap tiga tahun menghasilkan 3 orang cina (dari 6 orang yang dibimbingnya dalam 3 tahun) yang lain sebagai doktor dalam waktu 30 tahun sebagai dosen dia menghasilkan 30 orang doktor cina berkualitas internasional. dan kalau dari tiap anak didik nya yang berjumlah 30 itu juga menghsilkan 30 orang lagi artinya sudah 900 orang dalam satu generasi (60 tahun). Itu baru dari satu orang saja. Dan orang cina yang ambil doktor dan jadi dosen di barat berjumlah ribuan. Jadi bisa dibayangkan bagaimana dahsyatnya snow-ball-system mereka.

Dan melayu cuma bisa import dan ngutang. Yah itulah kalau jadi bangsa yang bodoh dan cengeng. You are idiot looser, guys. Selamat menikmati kebodohan bersama, khan moto kita makan nggak makan asal ngumpul.

Saya sangat gembira tidak lagi berpasport melayu, jadi saya bukan looser. he ... he ... he.